Pancaran Anugerah (Living Waters Indonesia)

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf

Kesaksian: Mencari Pria "Sempurna"

Cetak PDF

Mencari Pria “Sempurna”

Wanita, usia 38 tahun

 

Saya sangat merindukan relasi yang langgeng hingga bisa sampai ke pernikahan yang bahagia. Namun saya telah mengalami patah hati tiga kali dalam relasi berpacaran. Hal ini sangat menyakitkan. Saya merasa tertolak dan terlukai harga diri saya sebagai seorang wanita. Saya sudah berusaha memberi perhatian dan banyak pengorbanan bagi mereka, namun mereka tidak bisa mengasihi saya sebagaimana yang saya dambakan. Dan saya merasa bahwa semua kesalahan ada pada para mantan pacar saya, karena mereka yang memutuskan saya. Namun saya mulai bertanya-tanya, apakah saya juga punya andil dalam masalah ini? Saya merasa putus asa, apakah ada pria yang baik, yang dapat sungguh2 mencintaiku?

Tidak lama sesudah saya mengalami patah hati yang ketiga, Tuhan memberi saya kesempatan untuk mengikuti Living Waters Leadership Training di Bali. Tuhan bekerja dan membukakan kenyataan tentang diri saya. Dalam hati saya ada kekosongan-kebutuhan yang besar akan kasih sayang, yang saya tidak peroleh secara memadai dari ayah saya. Karena kesibukan melayani sebagai hamba Tuhan di gereja, sekaligus juga karena latar belakang keluarga dari ayah saya yang juga tidak memenuhi kebutuhan emosinya. Keadaan ini membuat ayah saya tidak bisa memenuhi kebutuhan emosi saya. Ayah saya seorang yang bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan material dan pendidikan kami anak-anaknya, namun ia tidak memberi pujian dan afirmasi kepada saya, tidak berkomunikasi dari hati ke hati saat saya membutuhkan. Selain itu, ayah saya jarang sekali memberikan pelukan dan ciuman sebagai tanda kasihnya, ini juga karena pengaruh budaya orang Tionghoa yang tidak terbiasa dengan hal ini.

Tanpa disadari, saya mencoba mencari figure pria “sempurna” yang dapat mengisi kekosongan hatiku akan kasih sayang, yang saya dambakan dari ayah saya. Pria yang dapat bisa membuat saya merasakan bahwa saya adalah wanita yang berharga, dan melengkapi harga diri saya menjadi utuh. Kerinduan ini begitu mendalam, sehingga sewaktu saya dikecewakan oleh para mantan pacar saya, saya sangat terluka. Melalui proses pemahaman tentang hal ini, saya dimampukan untuk mengampuni ayah saya dan saya membuka hati saya untuk menerima kasih BAPA di surga yang sempurna. Hanya Yesus yang memahami semua kebutuhan-kebutuhanku dan hanya Yesus yang mampu memenuhinya secara sempurna. Ia menerima dan mengasihi saya sebagai anakNya yang terkasih.

Setahun kemudian, saya mendapat anugrah dan kesempatan ke Vancouver, Canada untuk mengambil program internship dengan Living Waters Canada.

Tuhan menolong saya untuk dapat merasakan kembali emosi-emosi yang lebih dalam, yang selama ini saya pendam atau abaikan. Saya tidak memiliki orang yang bisa saya ajak bicara untuk memproses emosi-emosi terdalam saya dalam masa kecil-remaja. Selama ini saya menutupi dan berusaha mengontrol emosi-emosi saya dengan menjadi “anak baik”, untuk menutupi rasa takut akan penolakan dan demi mendapatkan kebutuhan akan penerimaan dan peneguhan. Saya juga senang memperhatikan dan menolong orang lain, dan tanpa disadari, hal ini juga sebagai salah satu cara saya untuk mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari orang lain. Saya menikmati menjadi orang yang dibutuhkan. Tuhan menyingkapkan motivasi yang tidak benar dalam saya melayani dan menolong orang lain.  Selain itu, saya juga tidak nyaman untuk menunjukkan atau mengungkapkan kelemahan saya; atau pun jika mendapatkan kritikan/masukan dari orang lain. Dan juga tidak nyaman jika harus meminta tolong dan bergantung pada orang lain. Saya tampil sebagai orang yang mandiri dan kuat – namun di dalamnya saya menyimpan kebutuhan yang besar akan kasih, penerimaan dan penghargaan dari orang lain.  Tuhan menolong saya dan menyingkapkan kenyataan tentang siapa diri saya yang sebenarnya di balik topeng anak baik yang selama ini saya kenakan.

 

Living Waters merupakan tempat yang aman bagi saya untuk belajar menyadari dan mengakui kelemahan-kelemahan dan kebutuhan-kebutuhan saya. Saya belajar untuk mendengarkan emosi-emosi saya, serta mengungkapkannya secara jujur tanpa dihakimi dan ditolak. Di sini saya mendapat “ruang” untuk memproses diri saya serta mendapat dukungan doa dan pendampingan empatik dari orang-orang, yang juga pernah bergumul dan masih dalam proses – sama dengan saya. Saya belajar menerima kasih dan pertolongan dari orang lain, sekaligus sebagai cara saya belajar mengasihi dan memperhatikan diri saya dengan cara yang sehat. Sekarang saya merasa lebih lega dan bebas dengan diri saya dan orang lain.

Tuhan melanjutkan dengan memasuki ruang kesepian dalam hati saya-terisolasi dan sendirian.  Dalam doa, Tuhan menunjukkan sebuah gambaran – saya yang masih kecil berada dalam ruangan tertutup dan sendirian. Yesus memanjat dari dinding luar dan masuk ke dalam. Ia menemui saya dan menemani saya yang sendirian. Sekarang saya memiliki seseorang yang bisa saya ajak bicara, seorang yang memperhatikan dan mengasihi saya. Saya merasakan damai dan dikasihi, tidak lagi kesepian, karena ada Yesus bersama dengan saya. Pada waktu Yesus mengajak saya untuk keluar dari ruangan untuk menemui orang lain, saya katakana bahwa saya masih tidak siap dan takut. Namun Ia berjanji akan bersama saya dan tidak akan pernah meninggalkan saya sendirian. Dan saya bisa mengambil langkah untuk keluar kapan saja sewaktu saya merasa siap. Ia tidak memaksa saya, namun Ia mendorong saya untuk berani mengambil langkah keluar untuk berelasi dengan orang lain.

Kehadiran Tuhan yang nyata dalam kesendirian saya, mengisi rasa kesepian dan kebutuhan saya akan kasih. Dan Tuhan melanjutkan dengan menyatakan kepada saya siapa saya sesungguhnya di mataNya. Saya adalah anak putriNya yang berkenan di hatiNya. Dan saya adalah wanita yang memiliki identitas yang utuh dan lengkap, walaupun saya masih lajang. Terkadang saya masih bergumul dengan diri saya – masih merasa kuatir, dan masih ingin mengontrol untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri dengan cara lama saya. Namun hal yang sangat nyata berbeda sekarang adalah saya tidak sendirian, ada Tuhan bersama saya dalam pergumulan saya. Dan Tuhan terus menerus menyatakan keberadaanNya yang setia dan mengasihi saya, dan saya dapat mempercayakan diri saya, kebutuhan-kebutuhan dan masa depan saya sepenuhnya di tanganNya. Puji TuhanJ

 

Berita

Living Waters Leadership Training

3-8 Oktober 2011 di Bali

Klik di sini




Aku Mencintai CiptaanKu ..

I Love You... A special prayer from God's heart...

Klik di sini




Seminar September 2010

Seminar di Bandung + Malang

Klik di sini




Penderitaan

Bagaimana saya bisa mengerti penderitaan saya? Bacalah kutipan ini oleh Bunda Teresa

Klik di sini