“Anak kami, Steve adalah seorang bocah berusia 5 tahun yang manis. Tapi dua tahun terakhir ini, kami mengamati perilaku yang mengkhwatirkan. Ia lebih menyukai bermain dengan boneka Barbie daripada mobil balap. Menari-nari seperti layaknya seorang balerina lebih menarik perhatiannya dibandingkan dengan bermain perang-perangan. Belum lagi ditambah dengan minatnya yang besar untuk mencoba memakai perhiasan wanita. Ketika saya mengungkapkan masalah ini kepada guru sekolahnya, ia tidak menganggap masalah ini sebagai masalah yang serius. Begitu pula dengan ibu mertua saya. Dapatkah ia bertumbuh menjadi pria dewasa yang normal?”
Kekhawatiran serupa seringkali dinyatakan oleh banyak orang tua yang mengamati “kejanggalan” serupa pada anak-anak mereka. Baik oleh orang tua merasa bahwa anak laki-laki terlalu “feminin” ataupun anak perempuan mereka terbilang “tomboy”. Yang jadi pertanyaan utama biasanya adalah “Apakah kejanggalan yang ditemui pada anak saya akan menyebabkan mereka bertumbuh menjadi gay, lesbian, atau wanita?”
Joseph Nicolosi, Ph.D., presiden National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) di Amerika menyatakan bahwa sebagian besar pasien gay yang ia layani tidak menunjukkan perilaku feminin seperti yang dialami oleh Steve pada masa kanak-kanak mereka. Namun kenyataan adalah, hampir semua dari mereka menunjukkan karakteristik ketidaksesuaian gender sejak masa kecil, misalnya: kurang atletis, tidak agresif atau tidak menyukai permainan yang kasar. Hal ini mengakibatkan mereka kemudian mengalami ketersisihan dari teman-teman segendernya.
Kecenderungan Homoseksual Dan Perilaku Homoseksual
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara kecenderungan homoseksual dengan perilaku homoseksual. Pada kasus di atas, Steve mungkin memang memiliki kecenderungan homoseksual. Tetapi apabila ia bertumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang baik, ada kemungkinan ia tidak bertumbuh menjadi seorang yang berperilaku homoseksual.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan ahli kedokteran mengukur kadar hormon seseorang. Mungkin saja ada pria yang memiliki kadar hormon wanita yang cukup tinggi atau sebaliknya. Hal ini kemudian digunakan untuk menjelaskan adanya pria yang feminin dan wanita yang tomboy. Tetapi kecenderungan ini tidaklah harus diikuti menjadi suatu perilaku homoseksual.
Seseorang yang memiliki kecenderungan homoseksual masih dikaruniai kemampuan untuk memilih ataupun menolak pola hidup atau perilaku seperti itu. Tentu saja ini bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dengan pertolongan Tuhan dan dukungan keluarga serta orang-orang yang mengasihi mereka, pilihan yang terbaik pasti dapat dilakukan.
Langkah-Langkah Pencegahan
Kasih dan penerimaan tanpa syarat serta komunikasi dua arah adalah kata kunci yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam usahanya untuk mencegah terjadinya perilaku homoseksual pada anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, kekecewaan yang dialami oleh orangtua ketika mendapati anak-anak mereka tidak sesuai dengan harapan mereka (baik dalam hal gender ataupun kecenderungan/karakteristik gendernya). Tanpa disadari, hal ini menyebabkan penolakan terhadap diri si anak.
Orangtua perlu belajar untuk menerima setiap anak yang Tuhan percayakan apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya. Orangtua dapat mengambil bagian dalam mendampingi anak-anak mereka untuk mengatasi kelemahan yang ada pada mereka.
Beberapa langkah praktis berikut dapat membantu orangtua dalam mengatasi kecenderungan homoseksual pada anak:
1. Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis, ayah dan ibu yang saling mengasihi dan masing-masing menjalankan fungsinya dalam keluarga.
2. Tidak mengolok-olok kelemahan anak. Tapi justru memberi dukungan pada anak dengan perkataan yang membangun.
3. Hindari pemberian “label” banci kepada anak laki-laki atau tomboy kepada anak perempuan.
4. Menjadi teman bicara yang baik untuk anak-anak. Sebagian besar pelaku homoseksual pernah melewati suatu masa kesepian di mana mereka ingin mengungkapkan pergumulan mereka kepada seseorang yang dapat mereka percayai, tapi mereka tidak menemukannya.
5. Para ayah perlu terlibat langsung dalam membina hubungan dengan anak-anaknya. Menjadi figur teladan seorang pria bagi anak laki-laki dan memiliki kepekaan untuk berinteraksi dengan anak perempuannya. Para ibu perlu menyadari bahwa anak-anak laki-laki harus melepaskan diri dari keserupaan dan kedekatan dengan ibunya, untuk bertumbuh menjadi seperti ayahnya. Pergeseran ini tidak dialami oleh anak-anak wanita.
6. Orangtua perlu untuk terus menerus membina komunikasi dengan anak-anak mereka pada setiap tahap kehidupannya.
7. Ajarkan pada anak-anak sejak usia dini bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus dan seharusnya diperlakukan secara terhormat. Ajari mereka untuk melindungi diri dari pelecehan seksual dan berbicara terbuka tentang perlakuan yang mereka anggap aneh atau tidak wajar dari seseorang.
8. Berhati-hati dalam mempercayakan anak-anak pada pengawasan orang lain. Beberapa kasus pelecehan seksual dilakukan oleh “orang dekat” atau orang “kepercayaan”, bahkan di dalam lingkungan yang dianggap cukup rohani.
"Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai dunia ini, kami percaya Tuhan mengaruniakan keluarga sebagai perahu penyelamat bagi generasi selanjutnya. Adalah tugas kita bersama untuk mengokohkan sendi-sendi keluarga dan menjadikannya tempat pertumbuhan yang memberikan kenyamanan bagi setiap individu yang tinggal di dalamnya." (** Daniel & Lydia Kurnia)





